Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • Ilmu Komunikasi
blog-img-10

Posted by : Fifin Afandi

Selain Iklan Faktor Lingkungan Paling Dominan Picu Anak Merokok

Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Stisipol Pahlawan 12 Sekaligus Akademisi, Yang Gusti Feriyanti, menilai iklan rokok tidak terlalu mempengaruhi peningkatan anak merokok.

"Iklan atau promosi memang menjadi salah satu dari aspek yang bisa mempengaruhi orang atau anak merokok. Tetapi kalau dari kacamata saya, tidak terlalu mempengaruhi sebab keinginan anak merokok itu tidak hanya dipicu oleh iklan dan promosi saja. Namun ada pengaruh dari lingkungan atau keluarga yang menjadi role model yang bisa mempengaruhinya," ungkap wanita yang kerap disapa Gege.

Diakuinya perilaku anak berubah-rubah dari tahun ke tahun, Iklan rokok sendiri jarang terlihat di tv, saat ini bisa saja dikarenakan bujet yang mahal.

"Anak-anak milenial saat ini tidak menyukai menonton tv, sikap mereka merokok saya rasa bukan dari itu. Kalaupun mereka bermain gadget, kadang pun sering di skip iklan-iklan ini," katanya.

Iklan memang bentuk komunikasi pemasaran yang digunakan oleh industri rokok, dalam memperekenalkan produk andalannya kepada pelanggan. Tetapi masing-masing strategi pemasaran tentu ada kelebihan dan kekurangan.

"Misalnya, saat pemasaran suatu produk dengan iklan, mereka harus paham dulu kategori penonton seperti apa, kebiasan penonton itu lebih menyukai menonton tv atau mendengar radio. Sehingga dari hal-hal ini, tidak semua aspek iklan bisa mempengaruhi anak untuk merokok. Namun lebih ke faktor lingkungan anak tersebut bergaul," kata Gege.

Secara perspektif komunikasi keluarga bahwa lingkungan terdekat adalah keluarga yang memang sebagai institusi terkecil dan memiliki peran yang sangat penting. Dari keluarga itu pendidikan awal dimulai, keluarga mengajarkan bagaimanan anak bersikap dan tindakan yang baik dan bergaul di lingkungan.

Keluarga merupakan pondasi pertama yang mengajarkan nilai norma, tata pikir, sikap, bahkan budi pekerti. Prinsip inilah yang diajarkan kepada anak, orangtua itu punya kewajiban kepada anak. "Misalkan keluarga tersebut dari orangtua yang merokok, si anak akan melihat contoh ini saat tumbuh kembang anak maka bisa saja timbul keinginan untuk merokok karena meniru sikap orangtuanya. Di dalam keluarga bukan terdiri dari bapak dan ibu saja, keluarga satu kesatuan juga ada saudara, kakek dan nenek.

Menurutnya, lingkungan keluarga inilah yang bisa picu anak merokok sehingga peran orangtua sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada anak dampak buruk merokok saat anak beranjak dewasa. "Mereka perlu memberikan edukasi dampak merokok dari sisi ekonomi, sosial, dan budayanya. Selain itu, anak harus diberikan pengetahuan merokok tidak baik untuk kesehatan. Orangtua juga harus punya komitmen misalnya jangan merokok di depan anak," saran Gege.

Faktor lain pun ditambah dengan akses membeli rokok terkesan mudah sehingga perlu sekali peran semua pihak seperti penjual rokok yang membatasi bila pembeli adalah anak-anak. Belum lagi, harga rokok yang murah bila dibandingkan dengan negara luar sehingga menjadi mudah dijangkau oleh anak-anak sekali pun.

"Pemerintah pun harus membatasi ruang gerak dalam merokok. Memang pernah berjalan, namun kurang komitmen dalam mengatasi ini. Walaupun iklan bertubi-tubi tetapi kalau berbagai elemen komitmen membentuk perilaku anak seperti batasi area merokok dan kampanye bahaya merokok," kata Gege.

Menurutnya, pemerintah memang tidak dapat menutup pabrik rokok sebagai solusinya karena dapat berdampak pada masalah sosial dan ekonomi, bahkan ditakutkan pengangguran semakin bertambah. Serta iklan pun tidak dapat dihentikan sepanjang iklan tersebut sesuai dengan norma etik penyiaran dan industri tv income-nya.

"Tetapi mungkin regulasi pemerintah diulang kembali tentang jam tayang penyiaran, sensor atau pemerintah punya komitmen tinggi untuk mengkampanyekan bahaya merokok kepada generasi muda dengan merangkul semua elemen," saran Gege.

Banyak anak saat ini yang tanpa sepengetahuan orang tuanya merokok d iluar rumah, padahal dari segi umur anak ini masih cukup kecil untuk mengotori paru-parunya.

Seperti Sobi (12) saat ini ia masih duduk di bangku SMP namun satu hari ia sudah menghabiskan satu bungkus rokok. Bermula dari ikut-ikutan temannya Sobi mulai tertarik mencoba menghisap rokok. Ia pun menghabiskan rokok setiap harinya di luar rumah, saat sedang bersama dengan teman-temannya.

Sobi tak berani merokok di rumah, sebab tau pasti kedua orang tuanya akan marah jika mengetahui ia merokok. Uang jajan yang diberikan ibunya setiap hari lah yang digunakan Sobi untuk membeli rokok. Bahkan satu hari jika sedang berkumpul dengan temannya ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok filter berawarna putih.

"Kadang beli ketengan, kadang beli sama-sama teman jadi dapatnya banyak, kalau saru hari kadang sebungkus lah, kadang juga tidak sampai tergantung duitnya lah," ungkap Sobi saat ditemui Bangkapos.com disebuah Warung Internet di Kota Pangkalpinang, Menurutnya, merokok terlihat lebih keren saja, kepulan asap yang keluar dari mulut menambah kegantengan.

"Pas ngeliat teman saya itu keren bener, terus ada ditantangin juga berani merokok gak, jadi nyobain lah awalnya batuk-batuk tapi lama-lama hilang," ucapnya Bahkan ia akui sering tergiur ingin membeli rokok jenis baru yang kerap kali muncul di iklan jalanan.

"Kadang emang ada rasa pengen cobain  rasa mentol-mentol di iklan itu, ada beli tapi tetap enak rokok yang biasa, kadang ada yang rasa mint kalau di iklan," sebutnya.

Ia juga mengakui, pernah mencoba rokok elektrik atau yang lebih familiar dikenal vape, namun ia belum mampu untuk membeli rokok elektrik itu. "Kalau pernah coba iya ada cobain punya temen, tapi kalau beli mahal belum sanggup beli, kalau minta beli sama ibu bisa-bisa diusir dari rumah," jawabnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Kota Pangkalpinang, Eti Fahriaty mengatakan, iklan yang berada di pusat Kota menjadi salah satu penyebab anak-anak ingin mencoba merokok.

"Iklan itu salah satunya itu, sebab tempatnya bukan di pusat Kota, iklan rokok itu boleh dipasang tapi bukan dipusat kota  tidak dikihat oleh orang banyak terutama anak-anak bukan anti iklan rokok tapi ada batasan-batasan wilayahnya," kata Ety.

Menurutnya, jika reklame atau iklan rokok itu dipasang tepat dipusat Kota akan dapat dengan mudah dibaca dan dilihat secara langsung dengan anak-anak.

"Kalau di iklan itukan keliatannya nikmat, enak  nyaman, sehingga anak-anak itu tergiur untuk mencobanya, karena dipasang di pusat kota tadi, coba saja kalau tidak dilihat pasti tidak akan tertarik kan, namanya juga anak-anak memang sudah umurnya untuk selalu penasaran ingin mencoba itu," ungkap Ety.

Dia menyebutkan, selama ini pembinaan untuk anak-anak yang merokok masih melibatkan sekolah untuk mengedukasi para anak-anakyang merokok.

"Kalau kita dari Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Kota Pangkalpinang belum bisa membina anak-anak seperti itu kecuali melalui sekolah, di sekolah itukan notaband nya banyak anak-anak, masih di sekolah yang harus mengedukasinya serta peran orang tua tentunya," sebutnya

Ia kembali mengatakan, memang dibutuhkan peran keluarga untuk menangani permasalahan perokok untuk anak-anak.

"Karena keluarga ini lah yang berhubungan dekat dengan si anak, ada ibu, ayah, adik, kakak, kemudian jika dalam satu keluarga ada yang seharusnya tidak dilakukan oleh keluarga dirumah, sehingga hal itu tidak menjadi contoh oleh si anak," jelasnya

Dia menyebutkan, jika satu saja pihak keluarga ada yang menunjukan merokok dalam satu keluarga akan dijadikan contoh oleh anak nantinya. "Akhirnya anak coba-coba, ikut-ikutan, nah dengan awalnya coba-coba itukan terasa nikmat jadi berlanjut kan, kemudian faktor lingkungan tempat tinggalnya itu sangat berpengaruh jika sudah banyak dilingkunganya yang merokok si anak akan mengikuti nanti, dan itu akan menjadi pimicunya untuk merokok," sebutnya

Dia beraharap, para orang tua serta keluarga termasuk lingkungan paham agar tidak memberikan contoh yang tidak baik kepada anak.

"Setidaknya ini dapat mengurangi, harusnya orang tua itu paham mana yang harus dicontohkan mana yang tidak, merokok didepan anak sudah tentu tidak baik jangan lagi merokok dirumah, ditahan-tahan apalagi didepan anak," harapnya.